untuk testing besi beton maka pada umumnya cukup dilakukan test mekanik yaitu untuk mendapatkan fy (tegangan leleh) yang mana disyaratkan untuk ulir tidak boleh lebih dari 400 MPa, sedangkan wiremesh bisa sampai 550 MPa. Untuk uji kimia rasanya jarang dipakai, biasanya jika diminta itu umumnya jika diperlukan untuk mengetahui apakah baja tersebut mempunyai kemudahan atau kemampuan untuk di las. Tetapi ini biasanya di industri non konstruksi, karena dalam praktek lebih mudah dilakukan uji langsung, besi baja di las lalu di uji, putusnya dimana begitu saja.
Jadi petunjuk untuk pengujian mekanik ada di ASTM A 370 – 03a (Standard Test Methods and Definitions for Mechanical Testing of Steel Products), standard ini tidak terbatas pada besi beton saja, tetapi semua produk baja,
Sabtu, 08 Januari 2011
kolom terkekang
1. Kolom terkekang menurut beberapa penelitian memang memiliki kuat tekan lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa kekangan, umumnya secara matematis dirumuskan seperti ini
fcc = fc0 + k1 fl, dimana
fcc = confined concrete (beton dengan sengkang)
fco = kuat tekan normal
k1 = koefisien pengaruh kekangan (biasanya merupakan fungsi dari spasi sengkang)
fl = lateral pressure confinement
2. Untuk perbedaan antara beton mutu normal dengan kuat tekan tinggi, perbedaannya kira2 sebagai berikut:
- Beton normal, kekakuan rendah, kekuatan rendah, daktilitas tinggi
- Beton mutu tinggi, kekakuan tinggi, kekuatan tinggi, daktilitas rendah (artinya lebih getas)
Daktilitas yang dimaksud = displacement ductility ratio
fcc = fc0 + k1 fl, dimana
fcc = confined concrete (beton dengan sengkang)
fco = kuat tekan normal
k1 = koefisien pengaruh kekangan (biasanya merupakan fungsi dari spasi sengkang)
fl = lateral pressure confinement
2. Untuk perbedaan antara beton mutu normal dengan kuat tekan tinggi, perbedaannya kira2 sebagai berikut:
- Beton normal, kekakuan rendah, kekuatan rendah, daktilitas tinggi
- Beton mutu tinggi, kekakuan tinggi, kekuatan tinggi, daktilitas rendah (artinya lebih getas)
Daktilitas yang dimaksud = displacement ductility ratio
pPengertian struktur rangka
1. struktur rangka batang bidang (2d) yakni plane truss
2. struktur rangka batang ruang (3d) yakni space truss
3. struktur rangka kaku bidang atau sering juga disebut portal bidang (2d) yakni plane frame
4. struktur rangka kaku ruang (3d) atau sering disebut portal ruang yakni space frame
(plane = bidang artinya cuma 2 dimensi misalnya x dan y)
(space = ruang artinya 3 dimensi misalnya x,y dan z)
jadi rangka bidang dan rangka ruang adalah struktur yang elemen-elemen penyusunnya hanya menerima gaya-gaya aksial saja (tekan atau tarik) dengan kondisi sambungan antar elemen batang struktur adalah sendi (tidak bisa memikul momen).
sedangkan untuk portal bidang atau ruang, elemen-elemen struktur memiliki sambungan yang kaku yang dapat memikul gaya lentur (momen).
Jadi dalam perencanaan seharusnya kita menentukan pilihan terlebih dahulu jenis struktur mana yang akan kita pakai sehingga kita bisa menentukan model struktur apa yang akan kita pilih jika menggunakan bantuan program SAP, karena pada pemilihan tersebut akan menentukan gaya-gaya dalam yang terjadi pada elemen struktur yang kita hitung.
di mana jika rangka batang faktor inersia diabaikan sedangkan jika rangka ruang faktor inersianya diperhitungkan.
2. struktur rangka batang ruang (3d) yakni space truss
3. struktur rangka kaku bidang atau sering juga disebut portal bidang (2d) yakni plane frame
4. struktur rangka kaku ruang (3d) atau sering disebut portal ruang yakni space frame
(plane = bidang artinya cuma 2 dimensi misalnya x dan y)
(space = ruang artinya 3 dimensi misalnya x,y dan z)
jadi rangka bidang dan rangka ruang adalah struktur yang elemen-elemen penyusunnya hanya menerima gaya-gaya aksial saja (tekan atau tarik) dengan kondisi sambungan antar elemen batang struktur adalah sendi (tidak bisa memikul momen).
sedangkan untuk portal bidang atau ruang, elemen-elemen struktur memiliki sambungan yang kaku yang dapat memikul gaya lentur (momen).
Jadi dalam perencanaan seharusnya kita menentukan pilihan terlebih dahulu jenis struktur mana yang akan kita pakai sehingga kita bisa menentukan model struktur apa yang akan kita pilih jika menggunakan bantuan program SAP, karena pada pemilihan tersebut akan menentukan gaya-gaya dalam yang terjadi pada elemen struktur yang kita hitung.
di mana jika rangka batang faktor inersia diabaikan sedangkan jika rangka ruang faktor inersianya diperhitungkan.
Frame vs Truss
Sistem struktur rangka terdiri atas:
1. Sistem struktur bidang
a). Plane Truss (PT)
b). Plane Frame (PF)
c). Grillage (GL)
2. Sistem struktur ruang
a). Space Truss (ST)
b). Space Frame (SF)
Sebelum masuk dalam pemakaian struktur diatas, perlu difahami dulu tentang:
1). Pemodelan struktur
Terdiri atas:
a). Properti dan hubungan batang
Terdiri atas: Titik Awal, Titik Akhir, luas penampang, momen inersia, modulus elastisitas bahan, hubungan dengan batang lain (sendi , jepit)
b). Sistem tumpuan
Tumpuan yang menahan gaya arah vertikal, horizontal dan perputaran sudut.
Rol hanya menahan 1 arah saja, umumnya gaya vertikal
Sendi menahan gaya vertikal dan horizontal
Jepit menahan gaya vertikal, horizontal dan perputaran sudut.
2). Pembebanan Struktur
Jenis beban terdiri:
a). Beban Titik
Adalah beban yang bekerja pada titik simpul, arahnya bisa pada sumbu X, Y, atau Z
Beban Titik ini berupa beban terpusat.
b). Beban Batang
Adalah beban yang bekerja pada batang struktur, bisa merupakan beban terpusat (P) atau beban merata (Q)
Suatu model struktur setelah dibebani akan terjadi adalah:
1) deformasi
2) gaya batang
3) reaksi perletakan
yang jenisnya akan tergantung pada sistem struktur yang dipilih
Karakteristik Struktur Rangka:
1). Plane Truss (PT)
Batang2 disusun membentuk segita tertutup dengan hubungan batang adalah sendi
Beban yang bekerja adalah beban titik, bisa pada arah X (Px) atau Y (Py)
Setelah dibebani, akan terjadi deformasi perpindahan titik arah X atau arah Y (dx dan dy), (2 degree of freedom) atau batang mengalami perubahan panjang
Gaya batang yg terjadi hanya gaya Aksial, gaya yg bekerja sejajar sumbu batang (Tarik atau Tekan atau Nol)
Reaksi perletakan adalah gaya arah X atau Y (Rx dan RY) tergantung jenis tumpuannya
2) Plane Frame (PT)
Batang disusun secara bebas dengan hubungan antar batangnya sebagian besar adalah menerus / jepit. Bisa memakai hubungan sendi pada beberapa tempat tertentu yg direncanakan untuk kebutuhan tertentu
Sistem tumpuan bis roll, sendi atau jepit
Beban yang bekerja bisa bebanTitik pada arah vertikal / horizontal (Px / Py) dan beban batang (kebanyakan nya)
Setelah dibebani struktur akan mengalami:
Deformasi perpindahan titik arah X, Y dan perputaran sudut (3 degree of freedom)
Gaya batang yang terjadi adalah:
Gaya Aksial (Px), Gaya Geser (Py) dan Momen Lentur (@z)
Reaksi perletakan adalah Gaya Arah X, Y dan Momen (Rx, Ry dan Momen)
3). Struktur Space Truss (ST)
Secara singkat sama dengan Plane Truss dalam 3 Dimensi (Ruang)
Gaya yang bekerja beban titik arah X,Y atau Z (Px, Py dan Pz)
Tumpuan dipakai untuk menahan gaya arah X, Y dan Z
Setelah dibebani, struktur akan mengalamai:
Deformasi perpindahan titik kearah X, Y, dan Z ( dx, dy dan dz) (3 degree of freedom)
Gaya batang hanya gaya aksial (Px)
Reaksi perletakan berupa gaya Arah X, Y dan Z (Rx, Ry dan Rz)
4) Struktur Space Frame (SF)
Secara singkat sama dengan Plane Frame / Portal dalam 3 Dimensi (Ruang)
Gaya yang bekerja beban titik arah X,Y atau Z (Px, Py dan Pz) dan beban batang
Tumpuan dipakai untuk menahan gaya arah X, Y dan Z, rotasi pada sumbu X, Y dan Z (@X, @Y dan @Z)
Setelah dibebani, struktur akan mengalamai:
Deformasi perpindahan titik kearah X, Y, dan Z ( dx, dy dan dz) dan perputaran sudut pada sumbu X,Y dan Z (2X,@y dan @Z)(6 degree of freedom)
Gaya batang hanya gaya aksial (Px), gaya geser arah vertikal (PY), gaya geser arah horizontal (PZ) , Momen Lentur arah Vertikal (MZ), Momen Lentur Arah Horizontal (MY) dan Momen Torsi (Mx).
Reaksi Perletakan terdiri dari Gaya Arah X,Y dan Z (RX, RY dan RZ) dan Momen arah X,Y dan Z (MX, MY dan MZ)
Catatan:
Degree of Fredom (DOF) adalah derajat kebebasan suatu titik simpul, yang akan menentukan jumlah persamaan yg harus dikerjakan. Satu buah titik pada PT hanya perlu 2 persamaan, sedang 1 titik pada SF perlu 6 persamaan.
1. Sistem struktur bidang
a). Plane Truss (PT)
b). Plane Frame (PF)
c). Grillage (GL)
2. Sistem struktur ruang
a). Space Truss (ST)
b). Space Frame (SF)
Sebelum masuk dalam pemakaian struktur diatas, perlu difahami dulu tentang:
1). Pemodelan struktur
Terdiri atas:
a). Properti dan hubungan batang
Terdiri atas: Titik Awal, Titik Akhir, luas penampang, momen inersia, modulus elastisitas bahan, hubungan dengan batang lain (sendi , jepit)
b). Sistem tumpuan
Tumpuan yang menahan gaya arah vertikal, horizontal dan perputaran sudut.
Rol hanya menahan 1 arah saja, umumnya gaya vertikal
Sendi menahan gaya vertikal dan horizontal
Jepit menahan gaya vertikal, horizontal dan perputaran sudut.
2). Pembebanan Struktur
Jenis beban terdiri:
a). Beban Titik
Adalah beban yang bekerja pada titik simpul, arahnya bisa pada sumbu X, Y, atau Z
Beban Titik ini berupa beban terpusat.
b). Beban Batang
Adalah beban yang bekerja pada batang struktur, bisa merupakan beban terpusat (P) atau beban merata (Q)
Suatu model struktur setelah dibebani akan terjadi adalah:
1) deformasi
2) gaya batang
3) reaksi perletakan
yang jenisnya akan tergantung pada sistem struktur yang dipilih
Karakteristik Struktur Rangka:
1). Plane Truss (PT)
Batang2 disusun membentuk segita tertutup dengan hubungan batang adalah sendi
Beban yang bekerja adalah beban titik, bisa pada arah X (Px) atau Y (Py)
Setelah dibebani, akan terjadi deformasi perpindahan titik arah X atau arah Y (dx dan dy), (2 degree of freedom) atau batang mengalami perubahan panjang
Gaya batang yg terjadi hanya gaya Aksial, gaya yg bekerja sejajar sumbu batang (Tarik atau Tekan atau Nol)
Reaksi perletakan adalah gaya arah X atau Y (Rx dan RY) tergantung jenis tumpuannya
2) Plane Frame (PT)
Batang disusun secara bebas dengan hubungan antar batangnya sebagian besar adalah menerus / jepit. Bisa memakai hubungan sendi pada beberapa tempat tertentu yg direncanakan untuk kebutuhan tertentu
Sistem tumpuan bis roll, sendi atau jepit
Beban yang bekerja bisa bebanTitik pada arah vertikal / horizontal (Px / Py) dan beban batang (kebanyakan nya)
Setelah dibebani struktur akan mengalami:
Deformasi perpindahan titik arah X, Y dan perputaran sudut (3 degree of freedom)
Gaya batang yang terjadi adalah:
Gaya Aksial (Px), Gaya Geser (Py) dan Momen Lentur (@z)
Reaksi perletakan adalah Gaya Arah X, Y dan Momen (Rx, Ry dan Momen)
3). Struktur Space Truss (ST)
Secara singkat sama dengan Plane Truss dalam 3 Dimensi (Ruang)
Gaya yang bekerja beban titik arah X,Y atau Z (Px, Py dan Pz)
Tumpuan dipakai untuk menahan gaya arah X, Y dan Z
Setelah dibebani, struktur akan mengalamai:
Deformasi perpindahan titik kearah X, Y, dan Z ( dx, dy dan dz) (3 degree of freedom)
Gaya batang hanya gaya aksial (Px)
Reaksi perletakan berupa gaya Arah X, Y dan Z (Rx, Ry dan Rz)
4) Struktur Space Frame (SF)
Secara singkat sama dengan Plane Frame / Portal dalam 3 Dimensi (Ruang)
Gaya yang bekerja beban titik arah X,Y atau Z (Px, Py dan Pz) dan beban batang
Tumpuan dipakai untuk menahan gaya arah X, Y dan Z, rotasi pada sumbu X, Y dan Z (@X, @Y dan @Z)
Setelah dibebani, struktur akan mengalamai:
Deformasi perpindahan titik kearah X, Y, dan Z ( dx, dy dan dz) dan perputaran sudut pada sumbu X,Y dan Z (2X,@y dan @Z)(6 degree of freedom)
Gaya batang hanya gaya aksial (Px), gaya geser arah vertikal (PY), gaya geser arah horizontal (PZ) , Momen Lentur arah Vertikal (MZ), Momen Lentur Arah Horizontal (MY) dan Momen Torsi (Mx).
Reaksi Perletakan terdiri dari Gaya Arah X,Y dan Z (RX, RY dan RZ) dan Momen arah X,Y dan Z (MX, MY dan MZ)
Catatan:
Degree of Fredom (DOF) adalah derajat kebebasan suatu titik simpul, yang akan menentukan jumlah persamaan yg harus dikerjakan. Satu buah titik pada PT hanya perlu 2 persamaan, sedang 1 titik pada SF perlu 6 persamaan.
Kamis, 06 Januari 2011
Mekanika Fluida (1)
Fluida adalah zat yang mengalami perubahan bentuk secara kontinu ketika terkena gaya geser.
Ada dua macam fluida: gas dan cairan
Di teknik sipil, pembahasan mekanika fluida umumnya dibatasi pada cairan.
Satuan
SI (Meter, Kilogram, Second/Detik). Massa (kilogram), panjang (meter), dan waktu (detik) masing-masing dilambangkan sebagai M, L, T.
Satuan gaya adalah Newton (N) yaitu gaya yg menimbulkan percepatan 1 m/d2 pada sebuah massa 1 kg. 1 N = 1 kg m/d2 (MLT-2)
Satuan kerja adalah Joule (J) adalah energi yang diperlukan utk memindah gaya sejauh 1 m, yaitu 1 Nm (ML2T-2). Tenaga adalah energi atau kerja yg dilakukan per satuan waktu, dinyatakan dalam watt (W). 1 W = 1 Nm/d = 1 J/d (ML2T-3)
Satuan MKS
Kilogram massa (kgm), meter (m), dan detik (d)
Satuan berat/gaya digunakan kgf, kadang-kadang cukup digunakan kg.
Rapat Massa, Berat Jenis, dan Kerapatan Relatif
Rapat massa zat (r) adalah massa zat per satuan volume (kg/m3: ML-3)
Berat jenis (g) adalah gaya oleh gravitasi bumi (g) yang bekerja pada satu satuan volume zat (g = rg: N/m3: ML-2T-2)
Kerapatan relatif (s) dari sebuah zat adalah perbandingan rapat massanya dengan rapat massa air pada suhu standar (40 C) dan tekanan standar (atmosfer).
Untuk air r = 103 kg/m3, g = 103 x 9.81» 104 N/m3 dan s=1
Viscositas/Kekentalan Fluida
Adalah salah satu sifat fluida yang menahan terjadinya perubahan bentuk krn gaya geser.
Fluida dengan viskositas tinggi berubah bentuk lebih lambat dibandingkan dengan fluida dengan viskositas rendah.
Tegangan Permukaan
Kerja yang dilakukan untuk melawan gaya tarik ke bawah. Tegangan permukaan membentuk lapisan tipis di permukaan air yang mempunyai kemampuan menahan tegangan tarik. Tegangan permukaan s (sigma) bekerja pada bidang permukaan yg sama besar di semua titik.
Dalam aplikasi teknik, gaya permukaan biasanya diabaikan karena sangat kecil
Rabu, 05 Januari 2011
Jembatan Terpanjang di Dunia Hubungkan 3 Kota Sekaligus
Jembatan terpanjang di dunia selesai dibangun di Cina setelah empat tahun pengerjaan. Jembatan sepanjang 42,5 kilometer yang memiliki persimpangan tersebut menghubungkan tiga kota di Cina. Jembatan itu menghubungkan Kota Qingdao di sebelah timur Provinsi Shandong dengan Distrik Huangdao. Panjang jembatan tersebut mencapai 42,5 kilometer atau sekitar delapan kali lebih panjang dari jembatan Suramadu di Jawa Timur, Indonesia, yang memiliki panjang 5,4 kilometer.
Jembatan bernama Qingdao Haiwan tersebut dibangun dua tim berbeda yang mengerjakan sejak 2006. Pembangunan selesai pada Senin (27/12). Jembatan menghubungkan tiga kota pantai di Provinsi Shandong. Salah satu teknisi mengatakan, “Contoh dari komputer dan perhitungannya semua sangat bagus. Tapi Anda tidak bisa bersantai sampai kedua sisi menyatu. Kerenggangan beberapa sentimeter saja bisa memicu bencana.”
Jembatan Qingdao Haiwan menyisihkan jembatan Lake Pontchartrain Causeway di Louisiana, Amerika Serikat. Lake Pontchartrain Causeway memiliki panjang 38,42 kilometer.
Jembatan bernama Qingdao Haiwan tersebut dibangun dua tim berbeda yang mengerjakan sejak 2006. Pembangunan selesai pada Senin (27/12). Jembatan menghubungkan tiga kota pantai di Provinsi Shandong. Salah satu teknisi mengatakan, “Contoh dari komputer dan perhitungannya semua sangat bagus. Tapi Anda tidak bisa bersantai sampai kedua sisi menyatu. Kerenggangan beberapa sentimeter saja bisa memicu bencana.”
Jembatan Qingdao Haiwan menyisihkan jembatan Lake Pontchartrain Causeway di Louisiana, Amerika Serikat. Lake Pontchartrain Causeway memiliki panjang 38,42 kilometer.
Kamis, 30 Desember 2010
Beberapa daftar SNI untuk struktur sipil
STANDAR NASIONAL INDONESIA
DAFTAR STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI)
BIDANG BAHAN KONSTRUKSI BANGUNAN DAN REKAYASA SIPIL
1. Metode Pengujian Kuat Tekan Dinding Pasangan Bata Merah di Laboratorium
SNI 03-4164-1996
Metode ini digunakan untuk memperoleh nilai kuat tekan dinding pasangan bata merah yang digunakan sebagai dinding struktural bagi keperluan perencana dan pelaksana
2. Metode Pengujian Kuat Lentur Dinding Pasangan Bata Merah di Laboratorium
SNI 03-4165- 1996
Metode ini digunakan untuk memperoleh nilai kuat lentur dinding pasangan bata merah yang digunakan sebagai dinding struktural bagi keperluan perencana dan pelaksana
3. Metode Pengujian Kuat Geser Dinding Pasangan Bata Merah di Laboratorium
SNI 03-4166-1996
Metode ini digunakan untuk memperoleh nilai kuat geser dinding pasangan bata merah yang digunakan sebagai dinding struktural bagi keperluan perencana dan pelaksana
4. Metode Pengujian Kedataran dan Kerataan Lantai Mengguna-kan Sistem Bilangan F
SNI 03-6435- 2000
Metode ini digunakan untuk pengukuran profil permukaan lantai untuk memperoleh perkiraan
karakteristik kedataran dan perataan permukaan lantai menggunakan sistem bilangan –F dalam satuan metrik
(SI)
5. Metode Pengujian Pembebanan Lantai Beton Bertulang Pada Bangunan Bertingkat dengan Beban Air
SNI 03-6760- 2002
Metode ini digunakan untuk memperoleh nilai lendutan nyata, derajat pemulihan dan kapasitas nyata dari nilai
setelah diberi beban uji
6. Metode Pengujian untuk Tiang Tunggal terhadap Beban Tarik Aksial Statis
SNI 03-6761-2002
Metode ini digunakan untuk menentukan response tiang atau tiang-tiang dalam kelompok tiang terhadap beban aksial tarik dan dapat digunakan semua kedalaman tiang.
7. Metode Pengujian Beban -Lateral pada Pondasi Tiang
SNI 03-6762-2002
Metode ini digunakan untuk pengujian tiang vertical dan tiang miring, baik tiang pancang atau kelompok tiang untuk menentukan hubungan beban lendutan pada saat menerima beban lateral.
8. Spesifikasi Pipa Baja yang Dilas dan Tanpa Sambungan dengan Lapis Hitam dan Galvanis Panas
SNI 07-0242.1-2000
Spesifikasi ini meliputi pipa baja untuk pengguna umum yang dilas tanpa sambungan dengan lapisan hitam dan galvanis panas dalam ukuran tipikal 1/8 inci (3,175 mm) sampai 16 inci (406,40 mm), untuk tiga ukuran tipikal pipa baja dengan berat standar ujung polos, galvanis secara panas, dilas untuk penggunaan dengan
hubungan tipe solder dalam penerapan umum.
9. Spesifikasi Tabung Baja Karbon Struktural Berbentuk Bulat dan Lainnya yang Dibentuk Dalam Keadaan Dingin dengan Dilas Tanpa Kampuh
SNI 07-6402-2000
Spesifikasi ini mencakup baja karbon yang dibuat dalam keadaan dingin dengan dilas dan tanpa kampuh berbentuk bulat, bujursangkar, empat persegi atau tabung structural berbentuk khusus untuk konstruksi jembatan, bangunan gedung dan bangunan umum lainnya yang dilas, dipaku keling atau bulat
10. Spesifikasi Pelat Baja Karbon dengan Kuat Tarik Rendah dan Medium.
SNI 07-6403-2000
Spesifikasi ini ditujukan untuk pelat baja karbon struktural - bermutu A,B,C dan D
11. Spesifikasi Tabung Baja Karbon Struktural yang Dibentuk Dalam
SNI 03-6763-2002
Spesifikasi ini mencakup baja karbon yang dibentuk dalam keadaan panas dengan dilas dan tanpa kampuh untuk tabung baja karbon berbentuk bujur sangkar, STANDAR NASIONAL INDONESIA
No. Judul Standar Nomor Standar Ruang Lingkup Keadaan Panas dengan Dilas Tanpa Kampuh bulat, empat persegi atau tabung struktur berbentuk khusus untuk konstruksi jembatan, bangunan gedung dan bangunan umu lainnya yang dilas, dipaku keeling atau baut
12. Spesifikasi Baja Struktural
SNI 03-6764-2002
1. Spesifikasi ini mencakup penampang baja karbon, pelat dan tulangan berkualitas struktural untuk digunakan dalam konstruksi baja dan bangunan dengan paku keling, baut atau las dan untuk tujuan struktural umum
2. Pemakai harus mnempertimbangkan persyaratan tambahan, seperti ukuran kehaluran austenitic dan persyaratan, charpy V – Notch Impact, bila kelompok 4 atau 5 profil bersayap lebar disyaratkan untuk
digunakan selain kolom atau batang tekan lainnya.
13. Spesifikasi beton struktural
SNI 03-6880-2002
Spesifikasi ini mencakup bahan dan proporsi beton, baja tulangan dan prategang, produksi pengecoran dan
perawatan beton serta konstruksi cetakan. Ditetapkan pula perlakuan siar dan bagian-bagian tertanam,
perbaikan permukaan beton, dan finising permukaan yang tercetak. Dalam beberapa pasal terpisah dibahas
untuk konstruksi pelat dan finisingnya, beton arsitektural, beton masif, dan bahan beserta cara pelaksanaan
konstruksi beton pasca tarik. Termasuk pula ketentuan mengenai pengujian, evaluasi dan penerimaan beton
beserta strukturnya.
Tata Cara
14. Tata Cara
Perencanaan Beton
Bertulang dan Struktur
Dinding Bertulang
Untuk Rumah dan
Gedung
SNI 03-1734-
1989
Tata cara ini digunakan untuk mempersingkat waktu
perencanaan berbagai bentuk struktur yang umum dan
menjamin syarat-syarat perencanaan tahan gempa
untuk rumah dan gedung yang berlaku
15. Tata Cara
Penghitungan Struktur
Beton Untuk
Bangunan Gedung
SNI 03-2847-
1992
Tata cara ini digunakan dalam perencanaan dan
pelaksanaan struktur beton untuk bangunan gedung,
atau struktur bangunan lain yang mempunyai kesamaan
karakter dengan struktur bangunan gedung
16. Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang Untuk Bangunan Rumah dan Gedung
SNI 03-3430-1994
Tata cara ini digunakan dalam perencanaan dan pelaksanaan bangunan yang menggunakan struktur pasangan blok beton berongga bertulang
17. Tata Cara Pemasangan Panel Beton Ringan Berserat.
SNI 03-3445-1994
Tata cara ini digunakan dalam pemasangan panel beton ringan berserat non struktural sesuai perencanaan yang mengacu pada koordinasi modular.
DAFTAR STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI)
BIDANG BAHAN KONSTRUKSI BANGUNAN DAN REKAYASA SIPIL
1. Metode Pengujian Kuat Tekan Dinding Pasangan Bata Merah di Laboratorium
SNI 03-4164-1996
Metode ini digunakan untuk memperoleh nilai kuat tekan dinding pasangan bata merah yang digunakan sebagai dinding struktural bagi keperluan perencana dan pelaksana
2. Metode Pengujian Kuat Lentur Dinding Pasangan Bata Merah di Laboratorium
SNI 03-4165- 1996
Metode ini digunakan untuk memperoleh nilai kuat lentur dinding pasangan bata merah yang digunakan sebagai dinding struktural bagi keperluan perencana dan pelaksana
3. Metode Pengujian Kuat Geser Dinding Pasangan Bata Merah di Laboratorium
SNI 03-4166-1996
Metode ini digunakan untuk memperoleh nilai kuat geser dinding pasangan bata merah yang digunakan sebagai dinding struktural bagi keperluan perencana dan pelaksana
4. Metode Pengujian Kedataran dan Kerataan Lantai Mengguna-kan Sistem Bilangan F
SNI 03-6435- 2000
Metode ini digunakan untuk pengukuran profil permukaan lantai untuk memperoleh perkiraan
karakteristik kedataran dan perataan permukaan lantai menggunakan sistem bilangan –F dalam satuan metrik
(SI)
5. Metode Pengujian Pembebanan Lantai Beton Bertulang Pada Bangunan Bertingkat dengan Beban Air
SNI 03-6760- 2002
Metode ini digunakan untuk memperoleh nilai lendutan nyata, derajat pemulihan dan kapasitas nyata dari nilai
setelah diberi beban uji
6. Metode Pengujian untuk Tiang Tunggal terhadap Beban Tarik Aksial Statis
SNI 03-6761-2002
Metode ini digunakan untuk menentukan response tiang atau tiang-tiang dalam kelompok tiang terhadap beban aksial tarik dan dapat digunakan semua kedalaman tiang.
7. Metode Pengujian Beban -Lateral pada Pondasi Tiang
SNI 03-6762-2002
Metode ini digunakan untuk pengujian tiang vertical dan tiang miring, baik tiang pancang atau kelompok tiang untuk menentukan hubungan beban lendutan pada saat menerima beban lateral.
8. Spesifikasi Pipa Baja yang Dilas dan Tanpa Sambungan dengan Lapis Hitam dan Galvanis Panas
SNI 07-0242.1-2000
Spesifikasi ini meliputi pipa baja untuk pengguna umum yang dilas tanpa sambungan dengan lapisan hitam dan galvanis panas dalam ukuran tipikal 1/8 inci (3,175 mm) sampai 16 inci (406,40 mm), untuk tiga ukuran tipikal pipa baja dengan berat standar ujung polos, galvanis secara panas, dilas untuk penggunaan dengan
hubungan tipe solder dalam penerapan umum.
9. Spesifikasi Tabung Baja Karbon Struktural Berbentuk Bulat dan Lainnya yang Dibentuk Dalam Keadaan Dingin dengan Dilas Tanpa Kampuh
SNI 07-6402-2000
Spesifikasi ini mencakup baja karbon yang dibuat dalam keadaan dingin dengan dilas dan tanpa kampuh berbentuk bulat, bujursangkar, empat persegi atau tabung structural berbentuk khusus untuk konstruksi jembatan, bangunan gedung dan bangunan umum lainnya yang dilas, dipaku keling atau bulat
10. Spesifikasi Pelat Baja Karbon dengan Kuat Tarik Rendah dan Medium.
SNI 07-6403-2000
Spesifikasi ini ditujukan untuk pelat baja karbon struktural - bermutu A,B,C dan D
11. Spesifikasi Tabung Baja Karbon Struktural yang Dibentuk Dalam
SNI 03-6763-2002
Spesifikasi ini mencakup baja karbon yang dibentuk dalam keadaan panas dengan dilas dan tanpa kampuh untuk tabung baja karbon berbentuk bujur sangkar, STANDAR NASIONAL INDONESIA
No. Judul Standar Nomor Standar Ruang Lingkup Keadaan Panas dengan Dilas Tanpa Kampuh bulat, empat persegi atau tabung struktur berbentuk khusus untuk konstruksi jembatan, bangunan gedung dan bangunan umu lainnya yang dilas, dipaku keeling atau baut
12. Spesifikasi Baja Struktural
SNI 03-6764-2002
1. Spesifikasi ini mencakup penampang baja karbon, pelat dan tulangan berkualitas struktural untuk digunakan dalam konstruksi baja dan bangunan dengan paku keling, baut atau las dan untuk tujuan struktural umum
2. Pemakai harus mnempertimbangkan persyaratan tambahan, seperti ukuran kehaluran austenitic dan persyaratan, charpy V – Notch Impact, bila kelompok 4 atau 5 profil bersayap lebar disyaratkan untuk
digunakan selain kolom atau batang tekan lainnya.
13. Spesifikasi beton struktural
SNI 03-6880-2002
Spesifikasi ini mencakup bahan dan proporsi beton, baja tulangan dan prategang, produksi pengecoran dan
perawatan beton serta konstruksi cetakan. Ditetapkan pula perlakuan siar dan bagian-bagian tertanam,
perbaikan permukaan beton, dan finising permukaan yang tercetak. Dalam beberapa pasal terpisah dibahas
untuk konstruksi pelat dan finisingnya, beton arsitektural, beton masif, dan bahan beserta cara pelaksanaan
konstruksi beton pasca tarik. Termasuk pula ketentuan mengenai pengujian, evaluasi dan penerimaan beton
beserta strukturnya.
Tata Cara
14. Tata Cara
Perencanaan Beton
Bertulang dan Struktur
Dinding Bertulang
Untuk Rumah dan
Gedung
SNI 03-1734-
1989
Tata cara ini digunakan untuk mempersingkat waktu
perencanaan berbagai bentuk struktur yang umum dan
menjamin syarat-syarat perencanaan tahan gempa
untuk rumah dan gedung yang berlaku
15. Tata Cara
Penghitungan Struktur
Beton Untuk
Bangunan Gedung
SNI 03-2847-
1992
Tata cara ini digunakan dalam perencanaan dan
pelaksanaan struktur beton untuk bangunan gedung,
atau struktur bangunan lain yang mempunyai kesamaan
karakter dengan struktur bangunan gedung
16. Tata Cara Perencanaan Dinding Struktur Pasangan Blok Beton Berongga Bertulang Untuk Bangunan Rumah dan Gedung
SNI 03-3430-1994
Tata cara ini digunakan dalam perencanaan dan pelaksanaan bangunan yang menggunakan struktur pasangan blok beton berongga bertulang
17. Tata Cara Pemasangan Panel Beton Ringan Berserat.
SNI 03-3445-1994
Tata cara ini digunakan dalam pemasangan panel beton ringan berserat non struktural sesuai perencanaan yang mengacu pada koordinasi modular.
Langganan:
Postingan (Atom)